Ceret Angkringan

ukuran : Diameter 23 cm
volume : 4 dan 6 liter.
bahan : stenlis
harga : 85 dan 125 rb
Ceret Angkringan Khas ini berbentuk sangat khas dan hanya di produksi di sekitar Klaten, Jogja dan Solo saja, ini disebabkan karena memang kebutuhan akan ceret jenis ini banyak di daerah ini saja. Ceret Angkringan ini biasanya terbuat dari bahan galvanis dan stanlis steel. bahan stenlis dipakai untuk meningkatkan daya tahan ceret karena terus menerus di bakar. sehingaa walaupun harga ceret angkring sedikit lebih tinggi biasanya para pemakai lebih memilih bahan stenlis ini. Angkringan, Warung Koboi, Kucingan, atau Cafe Ceret Telu demikian orang menamai tempat ini. Apapun istilahnya tetapi maksudnya sama yakni warung makan yang “berwujud” grobak kayu berisi aneka makanan dan tiga buah ceret, beratap tenda plastik warna oranye atau biru yang dikelilingi kursi kayu panjang dan diterangi lampusenthir (lampu minyak).
Gerobak
berfungsi sebagai meja makan sekaligus etalase yang mendisplay
beraneka macam makanan mulai dari gorengan seperti tempe dan tahu
goreng, timus, serta bakwan hingga nasi kucing yaitu nasi sebesar
gengaman tangan dengan lauk sambal, bihun maupun oseng-oseng buncis
atau tempe. Tidak ketinggalan wedhang
atau
minuman seperti teh, kopi, jahe jeruk dan susu. Adapun menu
“istimewa” dan terbilang mewah yang dapat dijumpai di angkringan
misalnya ayam bacem, ceker ayam, sate ati dan sate usus. Melihat dari
menu yang disajikan tentu yang tersaji di sini bukan makanan layaknya
hidangan di restoran kelas atas. Tempe, timus serta ceker maupun
wedang jahe merupakan gambaran dari mana angkringan berasal.
Demikianlah kombinasi antara makanan dan minuman rakyat desa ini
tersaji di kota-kota melalui warung angkring. Soal setting tempat dan
properti warung ini sederhana saja cukup sepetak lahan kosong atau
tempat yang agak lapang seperti trotoar. Sedangkan untuk properti
cukup gerobak kayu, kursi, lampu senthir,
ceret
telu serta
tenda. Tidak perlu ruangan khusus ataupun seperangkat sound sistem
dan tata lampu yang mutakhir. Ini menunjukkan adanya nilai
kesederhanaan di warung angkringan tersebut.
lihat juga cara buat wedang jahe
cara buat teh nikmat
lihat juga cara buat wedang jahe
cara buat teh nikmat
Soal
harga boleh diadu, angkringan menyediakan berbagai macam makanan yang
murah meriah. Untuk makanan ringan seperti gorengan dibandrol
Rp500,-sedangkan untuk minuman harga berkisar antara Rp1500,- hingga
Rp2000,-. Uang seribupun cukup untuk membayar sebungkus nasi kucing.
Harga-harga tersebut telah dihitung lengkap dengan pelayanan, tidak
perlu tambah untuk tip ataupun PPN. Untuk sekali makan plus minum
paling banter seseorang akan merogoh kocek sebesar limaribu rupiah.
Angkringan
yang menjamur di Jogjakarta dan beberapa kota besar lainnya merupakan
salah satu potret mobilitas orang desa ke kota. Angkringan yang
notabene
merupakan
sajian desa namun keberadaannya dapat diterima di kota seperti Jogja
dan Solo terbukti dengan populernya angkringan di kota-kota tersebut.
Sejarah angkringan di Jogjakarta merupakan sebuah romantisme
perjuangan menaklukan kemiskinan. Angkringan sangat mudah di temui
bahkan hingga gang-gang kecil sekalipun. Hal ini menunjukkan adanya
nilai historis yang ada di warung angkringan.
Boleh
jadi angkringan sangat cocok untuk kaum marjinal berkantung cekak
yang “beranggotakan” sebagian mahasiswa, tukang becak dan buruh
maupun karyawan kelas bawah. Meskipun saat ini hal tersebut tidak
lagi berlaku mutlak. Kini banyak pula orang-orang yang sebenarnya
mampu jajan di restoran ikut ngangkring.
Peminat
angkringan pun bukan lagi kaum marjinal yang sedang dilanda kesulitan
keuangan semata namun juga orang berduit yang bisa makan lebih mewah
di restoran.
Angkringan
paling mudah dijumpai di daerah-daerah sekitar kampus. Alasannya
jelas, yaitu kehadiran mahasiswa-mahasiswa yang mengundang para
pengusaha angkringan untuk membuka usahanya di sekitar kampus. Hanya
dengan gerobak yang diterangi lampu minyak, angkringan menjadi tempat
favorit untuk sekedar makan dan bertukar pikiran. Meskipun menu
Angkringan sangat sederhana, antusias masyarakat Yogyakarta untuk
menimatinya seperti tak pernah surut.
Penikmat
angkringan dari semua segmen menjadi sebuah ciri khas kebersamaan dan
interaksi sosial yang erat. Angkringan tradisional menjadi simbol
ekonomi kerakyatan dan kultur kebersamaan yang dibangun spontan.
Disinilah terkandung nilai ekonomi dan kebersamaan atu social.
Fenomena angkringan merupakan kultur urban yang berkembang jauh
sebelum muncul kafe-kafe. Ketertarikan konsumen dengan angkringan
bukan karena makanan namun lebih pada menikmati suasana santai,
informal, dan bebas. Penikmat bebas membicarakan apa saja
diangkringan dengan berbagai keterbatasan seperti ciutnya tempat,
sehingga berdesak-desakan dan sebagainya. Kini, Angkringan telah
menjadi icon Kota Yogyakarta. Fenomena ini menjadi daya tarik sendiri
bagi wisatawan domestik, bahkan mancanegara untuk datang ke
Yogyakarta.
Sepintas
ketika kita melihat Angkringan, mungkin hanya sekedar lingkungan
transaksi jual beli saja. Ada penjual ada pembeli, aku jual kamu
beli, transaksi ekonomi biasa, dan sejenisnya. Tapi kalo kita bisa
melihat lebih jauh, sebenarnya tidak hanya sebatas itu saja. Ternyata
ada sebuah nilai-nilai kultural yang sangat berharga di dalam
ekosistem tersebut.
Angkringan
ini tidak hanya sekedar menjual “kopi jos”, gorengan atau “sego
kucing”. Disamping kenyamanan dan lingkungan yang “jogja banget”,
ada yang lebih dari itu yaitu nilai-nilai kultural yang terkandung
disana, yaitu Kejujuran,
kepercayaan, ikhlas, positif thinking, kebersamaan, guyub, kesetaraan
dan
mungkin masih banyak yang lain. Nilai-nilai yang tertanam disana,
tanpa kita sadari telah berproses dalam diri kita dalam hal ini
sebagai pembeli yang merupakan salah satu bagian dari “unit sistem”
yang tercipta disana. Hal ini sama terjadi dalam diri aktor yang
terkait disana, seperti penjual, pembeli, pelayan.
Kita
bisa aja melakukan hal seperti ini: datang, ambil makanan, pesen
minuman, ambil gorengan, duduk makan, slesai trus langsung pergi.
Atau datang, ambil gorengan 10, pesen minuman dan bayar dengan bilang
ambil gorengan 5. Tapi itu semua tidak kita lakukan. Begitu halnya
dengan penjual, mereka tidak memikirkan lagi kamu mau ambil gorengan
berapa, ambil “sego kucing” berapa, kamu duduk dimana, dan
lain-lain. Mereka hanya menghitung apa yang kamu ambil dan meminta
bayaran dari apa yang sudah kamu sebutkan. Semua nilai berproses di
dalam sana, kejujuran, ikhlas, rasa kepercayaan, guyub, kebersamaan,
kesetaraan, dan positif thingking. Tempat-tempat seperti inilah yang
bagus sebagai alat treatment menumbuhkan kembali nilai-nilai positif
yang ada pada diri.
Keberadaan
nilai-nilai seperti ini bisa dikatakan sangat kuat, tapi juga sangat
rapuh, gampang sekali dirusak. Nilai-nilai ini memang sangat terkait
kuat dengan kebudayaan yang sudah ada di masyarakat, dalam hal ini
masyarakat Jogja.
sms 08587981155
bbm 527eefcc...
2 komentar:
ponhin beli ceret yg stainlees piye ki carané
Cara pesan ceret tersebut gimana ya gan?
Posting Komentar